adhan dit

adhan dit
a secret makes a man man

Jumat, 16 November 2012

fenomena ustaz "instan" di Indonesia


Fenomena “Ustadz Instan” di Indonesia

Fenomena yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini menyaratkan banyak polemik diantara masyarakatnya. Salah satunya terkait dengan munculnya ustadz instan yang sekarang ini banyak beredar di dan media massa, terutama televisi. Tidak hanya mereka yang muncul di layar kaca tapi juga di media massa seperti koran, majalah, dan radio bahkan juga bertebaran di Indonesia, dan spesifiknya ada muncul di daerah masing-masing. Persaingan antara satu ustadz dengan ustadz lainnya menjadi tantangan sendiri bagi para pendakwah, dari menyiapkan mental untuk melayani masyarakat dengan ilmu yang dimiliki sampai menargetkan harga yang harus para pendengar bayar. Oleh karena itu, muncullah yang dinamakan sebagai ustadz selebriti yang notabenenya mereka menjadi pendakwah dan juga menjadi artis, tentu hal itu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang awam dan kurang awas dalam memahami fenomena seperti ini. Dan hal-hal yang ditawarkan oleh mereka tidak hanya dari segi ilmu agama saja tapi juga apa yang diperlukan oleh suatu media terhadap pendakwah tersebut, dari lelucon yang berlebihan, nyanyian, dan hal-hal yang berbau sara. Masih ada lagi yang mereka lakukan di layar kaca seperti mengumbar kemesraan kepada masyarakat dan menjadi salah satu ikon untuk beberapa iklan yang muncul di layar kaca.
Pada hakikatnya mereka (ustadz instan) yang pada saat ini wara-wiri di layar memang membuat resah para sarjana agama murni yang memang mereka mempelajari ilmu agama secara mendalam dan mengetahui seluk beluknya pada saat ini lebih terpojok dikalangan masyarakat, pada dasarnya masyarakat Indonesia pada saat ini lebih membutuhkan penyegaran agama dengan cara yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan sesuatu yang lebih mendalam, dan hal ini mengindikasikan bahwasanya tidak hanya ustadznya yang ingin menjadi instan tapi juga para masyarakatnya ingin beriman secara benar dengan cara instan. Hal ini tidak akan mungkin terjadi walaupun pada zaman sekarang ini semua hal telah menjadi serba instan, mulai dari makanan, minuman, belanja, hingga menjadi seorang sarjana pun bisa ditempuh dalam jangka waktu yang singkat. Kembali pada resahnya para ustadz yang memang notabenenya harus menjadi penyiar agama setelah mereka mengabdikan diri untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Dan mempelajari ilmu itu tidaklah seinstan seperti yang kita bayangkan selama ini, nyantri dengan waktu yang hanya seumur jagung, ataupun masuk sekolah yang berlandaskan agama yang pada saat ini mulai merebak padahal itu hanya menarik minat para orang tua untuk masuk karena ada nama atau simbolnya Islam/agama. Dan yang dimaksud dengan belajar agama itu tidak hanya dengan mendengarkan ceramah agama saja dan hal yang seperti diutarakan diatas tapi dengan  mempelajari ilmu-ilmu seperti, ilmu tauhid, fikih,ushul fikih, ulumul quran, ulumul hadis, tafsir, hadis, dan ilmu-ilmu bahasa arab, seperti nahwu, shorof, balaghah, mantiq dan lainnya. Ilmu-ilmu seperti inilah yang mereka belum ataupun tidak mereka kuasai tapi mereka hanya bagaimana cara menyampaikan ilmu tersebut dengan baik, dan belum tentu apa yang mereka sampaikan itu benar, karena ilmu-ilmu agama islam itu semuanya bersumber dari bahan-bahan yang berbau arab, dan bahasa arab itu maha luas sekali pengertian, dari satu jenis dengan jenis lainnya, dan dari satu kata itu bisa mengandung makna yang sama tetapi pemakainnya beda pada kalimatnya, ataupun satu kata mempunyai arti yang berbeda tergantung dengan kata apa ia digunakan, dan masih banyak lagi idiom-idiom dalam bahasa arab yang tidak hanya dalam waktu singkat mempelajarinya, karena sandaran agama islam itu ada dua pada dasarnya sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, yakni Al-Quran dan Sunnah, yang mana kedua hal itu tersusun dan tertulis dalam bahasa arab yang mana harus dengan menguasai sensasi bahasanya barulah maknanya bisa dijelaskan dengan baik dan juga benar.
Kemudian dari segi bahasa yang mana para pendakwah islam itu selalu dipanggil dengan sebutan ustadz, dan lebih tinggi lagi kyai ataupun syekh,  pada hakikatnya panggilan seperti ini akhirnya menjadi hal yang mendarah daging bagi kebanyakan orang yang tidak tahu dari mana bahasa itu berasal, lenbih dalam lagi panggilan “Ustadz” pada akhirnya berubah menjadi “Ustad”. Dan hal ini berlaku juga bagi para santri pondok pesantren yang memanggil guru mereka dengan sebutan “Ustad” padahal mereka tahu apa sebenarnya panggilan yang benar begitu juga penulisannya, terkadang pun tulisannya bisa keliru pada saat ditulis. Pergeseran makna inilah yang menjadi salah satu masalah dikalangan orang-orang yang mumpuni di bidangnya apalagi yang tidak mumpuni di bidangnya.  Dari segi kurangnya masyarakat awam yang kurang mengetahui arti kata “ustadz” itu sendiri menjadi polemik, di pesantren sendiri semua yang mengajar dipanggil sebagai “ustadz” walaupun ia mengajar mata pelajaran matematika, ataupun ilmu-ilmu sains lainnya. Singkatnya dalam beberapa kamus bahasa arab, ustadz itu berarti guru besar (profesor) dan dari hal tersebut mungkin saja hal ini diakibatkan oleh pergeseran makna tadi, lalu setiap orang bisa menjadi ustadz walaupun yang notabenenya “ustadz” belum menjadi “ustadz” dalam makna yang sebenarnya. Terlalu mudah sebenarnya kata ustadz itu keluar dari penuturan kita yang mana kitanya sendiri yang tidak mau tahu akan kebenaran suatu hanya menjadikan taqlid al-a’ma (mengikuti hal yang salah).
Pada fenomena yang terjadi pada saat ini akan hadirnya ustadz-ustadz yang instan mengurangi kualitas pada esensi seorang ustadz itu sendiri, yang banyak dicari saat ini adalah yang banyak leluconnya daripada ilmunya, sedikit bicara ilmu agama tetapi banyak bercandanya, lebih baiknya ialah bisa mengkombinasikan antara keduanya sehingga para pendengar tidak hanya mendapatkan ilmu agama tetapi juga tidak bosan untuk terus menghadiri mejelis ilmu seperti ini, bahkan menonton ataupun membacanya dari media massa yang sudah banyak beredar sekarang. Karena hadirnya mereka (ustadz instan) menimbulkan sebuah pertanyaan yang mana patut dipertanyakan, siapakah yang sebenarnya pantas dipanggil dengan sebutan tersebut itu? Sudah pasti kalau seorang dokter ialah seorang yang mempelajari ilmu-ilmu kesehatan dan kedokteran yang didalamnya terdapat ilmu-ilmu seperti biologi, kimia, fisika, dan lainnya. Hal ini membedakan seorang ahli biologi yang biologis mempelajari ilmu biologi, kimiawan dengan ilmu kimianya, dan begitu juga dengan fisikawan dengan ilmu fisikanya, yang mana mereka tidak dapat dipanggil dengan sebutan dokter, apalagi membuka praktik dokter. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwasanya sekali lagi kita membutuhkan kriteria yang jelas untuk menjadi seorang ustadz yang benar-benar “ustadz”, dan apakah ada kriteria yang seperti itu?.
Sama halnya dengan seorang mufassir (ahli tafsir) yang memiliki beberapa syarat yang menjadikan ia seorang mufassir. Menurut seorang Jalaluddin As-Suyuti dalam kitabnya Al-Itqan fi Ulumil Quran, setidaknya ada lima belas (15) hal yang harus dikuasai oleh seorang mufassir, dan bagi siapa yang tidak mengusai beberapa ilmu tersebut tidak dapat dikatakan dan tidak berhak menjadi seorang mufassir, siapa saja yang menafsirkan Al-Quran tanpa menguasai ilmu-ilmu tersebut, berarti ia menafsirkan dengan ra’yu (akal) yang mana hal ini dilarang.(bersambung).......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar