Fenomena “Ustadz Instan” di Indonesia
Fenomena
yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini menyaratkan banyak polemik diantara
masyarakatnya. Salah satunya terkait dengan munculnya ustadz instan yang
sekarang ini banyak beredar di dan media massa, terutama televisi. Tidak hanya
mereka yang muncul di layar kaca tapi juga di media massa seperti koran,
majalah, dan radio bahkan juga bertebaran di Indonesia, dan spesifiknya ada
muncul di daerah masing-masing. Persaingan antara satu ustadz dengan ustadz
lainnya menjadi tantangan sendiri bagi para pendakwah, dari menyiapkan mental
untuk melayani masyarakat dengan ilmu yang dimiliki sampai menargetkan harga
yang harus para pendengar bayar. Oleh karena itu, muncullah yang dinamakan
sebagai ustadz selebriti yang notabenenya mereka menjadi pendakwah dan juga
menjadi artis, tentu hal itu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang
awam dan kurang awas dalam memahami fenomena seperti ini. Dan hal-hal yang
ditawarkan oleh mereka tidak hanya dari segi ilmu agama saja tapi juga apa yang
diperlukan oleh suatu media terhadap pendakwah tersebut, dari lelucon yang
berlebihan, nyanyian, dan hal-hal yang berbau sara. Masih ada lagi yang mereka
lakukan di layar kaca seperti mengumbar kemesraan kepada masyarakat dan menjadi
salah satu ikon untuk beberapa iklan yang muncul di layar kaca.
Pada
hakikatnya mereka (ustadz instan) yang pada saat ini wara-wiri di layar memang
membuat resah para sarjana agama murni yang memang mereka mempelajari ilmu
agama secara mendalam dan mengetahui seluk beluknya pada saat ini lebih
terpojok dikalangan masyarakat, pada dasarnya masyarakat Indonesia pada saat
ini lebih membutuhkan penyegaran agama dengan cara yang lebih menyenangkan
dibandingkan dengan sesuatu yang lebih mendalam, dan hal ini mengindikasikan
bahwasanya tidak hanya ustadznya yang ingin menjadi instan tapi juga para
masyarakatnya ingin beriman secara benar dengan cara instan. Hal ini tidak akan
mungkin terjadi walaupun pada zaman sekarang ini semua hal telah menjadi serba
instan, mulai dari makanan, minuman, belanja, hingga menjadi seorang sarjana
pun bisa ditempuh dalam jangka waktu yang singkat. Kembali pada resahnya para
ustadz yang memang notabenenya harus menjadi penyiar agama setelah mereka
mengabdikan diri untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Dan mempelajari ilmu itu
tidaklah seinstan seperti yang kita bayangkan selama ini, nyantri dengan waktu
yang hanya seumur jagung, ataupun masuk sekolah yang berlandaskan agama yang
pada saat ini mulai merebak padahal itu hanya menarik minat para orang tua
untuk masuk karena ada nama atau simbolnya Islam/agama. Dan yang dimaksud
dengan belajar agama itu tidak hanya dengan mendengarkan ceramah agama saja dan
hal yang seperti diutarakan diatas tapi dengan mempelajari ilmu-ilmu seperti, ilmu tauhid,
fikih,ushul fikih, ulumul quran, ulumul hadis, tafsir, hadis, dan ilmu-ilmu
bahasa arab, seperti nahwu, shorof, balaghah, mantiq dan lainnya. Ilmu-ilmu
seperti inilah yang mereka belum ataupun tidak mereka kuasai tapi mereka hanya
bagaimana cara menyampaikan ilmu tersebut dengan baik, dan belum tentu apa yang
mereka sampaikan itu benar, karena ilmu-ilmu agama islam itu semuanya bersumber
dari bahan-bahan yang berbau arab, dan bahasa arab itu maha luas sekali
pengertian, dari satu jenis dengan jenis lainnya, dan dari satu kata itu bisa
mengandung makna yang sama tetapi pemakainnya beda pada kalimatnya, ataupun
satu kata mempunyai arti yang berbeda tergantung dengan kata apa ia digunakan,
dan masih banyak lagi idiom-idiom dalam bahasa arab yang tidak hanya dalam
waktu singkat mempelajarinya, karena sandaran agama islam itu ada dua pada
dasarnya sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, yakni Al-Quran dan Sunnah, yang
mana kedua hal itu tersusun dan tertulis dalam bahasa arab yang mana harus
dengan menguasai sensasi bahasanya barulah maknanya bisa dijelaskan dengan baik
dan juga benar.
Kemudian
dari segi bahasa yang mana para pendakwah islam itu selalu dipanggil dengan
sebutan ustadz, dan lebih tinggi lagi kyai ataupun syekh, pada hakikatnya panggilan seperti ini akhirnya
menjadi hal yang mendarah daging bagi kebanyakan orang yang tidak tahu dari
mana bahasa itu berasal, lenbih dalam lagi panggilan “Ustadz” pada
akhirnya berubah menjadi “Ustad”. Dan hal ini berlaku juga bagi para
santri pondok pesantren yang memanggil guru mereka dengan sebutan “Ustad”
padahal mereka tahu apa sebenarnya panggilan yang benar begitu juga
penulisannya, terkadang pun tulisannya bisa keliru pada saat ditulis. Pergeseran
makna inilah yang menjadi salah satu masalah dikalangan orang-orang yang
mumpuni di bidangnya apalagi yang tidak mumpuni di bidangnya. Dari segi kurangnya masyarakat awam yang
kurang mengetahui arti kata “ustadz” itu sendiri menjadi polemik, di pesantren
sendiri semua yang mengajar dipanggil sebagai “ustadz” walaupun ia mengajar
mata pelajaran matematika, ataupun ilmu-ilmu sains lainnya. Singkatnya dalam
beberapa kamus bahasa arab, ustadz itu berarti guru besar (profesor) dan dari
hal tersebut mungkin saja hal ini diakibatkan oleh pergeseran makna tadi, lalu
setiap orang bisa menjadi ustadz walaupun yang notabenenya “ustadz” belum
menjadi “ustadz” dalam makna yang sebenarnya. Terlalu mudah sebenarnya kata
ustadz itu keluar dari penuturan kita yang mana kitanya sendiri yang tidak mau
tahu akan kebenaran suatu hanya menjadikan taqlid al-a’ma (mengikuti hal
yang salah).
Pada
fenomena yang terjadi pada saat ini akan hadirnya ustadz-ustadz yang instan
mengurangi kualitas pada esensi seorang ustadz itu sendiri, yang banyak dicari
saat ini adalah yang banyak leluconnya daripada ilmunya, sedikit bicara ilmu
agama tetapi banyak bercandanya, lebih baiknya ialah bisa mengkombinasikan
antara keduanya sehingga para pendengar tidak hanya mendapatkan ilmu agama
tetapi juga tidak bosan untuk terus menghadiri mejelis ilmu seperti ini, bahkan
menonton ataupun membacanya dari media massa yang sudah banyak beredar
sekarang. Karena hadirnya mereka (ustadz instan) menimbulkan sebuah pertanyaan
yang mana patut dipertanyakan, siapakah yang sebenarnya pantas dipanggil dengan
sebutan tersebut itu? Sudah pasti kalau seorang dokter ialah seorang yang
mempelajari ilmu-ilmu kesehatan dan kedokteran yang didalamnya terdapat
ilmu-ilmu seperti biologi, kimia, fisika, dan lainnya. Hal ini membedakan
seorang ahli biologi yang biologis mempelajari ilmu biologi, kimiawan dengan
ilmu kimianya, dan begitu juga dengan fisikawan dengan ilmu fisikanya, yang
mana mereka tidak dapat dipanggil dengan sebutan dokter, apalagi membuka
praktik dokter. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwasanya sekali lagi kita
membutuhkan kriteria yang jelas untuk menjadi seorang ustadz yang benar-benar
“ustadz”, dan apakah ada kriteria yang seperti itu?.
Sama
halnya dengan seorang mufassir (ahli tafsir) yang memiliki beberapa syarat yang
menjadikan ia seorang mufassir. Menurut seorang Jalaluddin As-Suyuti dalam
kitabnya Al-Itqan fi Ulumil Quran, setidaknya ada lima belas (15) hal yang
harus dikuasai oleh seorang mufassir, dan bagi siapa yang tidak mengusai
beberapa ilmu tersebut tidak dapat dikatakan dan tidak berhak menjadi seorang
mufassir, siapa saja yang menafsirkan Al-Quran tanpa menguasai ilmu-ilmu
tersebut, berarti ia menafsirkan dengan ra’yu (akal) yang mana hal ini
dilarang.(bersambung).......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar