Entah
apa lagi yang harus kuperbuat. Kalian pernah tersentuh didikanku
dahulu. Tapi cakaran, gigitan, dan fitnah mentah kalian semburkan
padaku. Bagaikan kambing hitam yang kalian panggang dan bakar secara
massal. Itulah ciri "iblis" kalian. Entah siapa yang mengajari kalian,
tapi itulah yang terjadi. Kalau aku ingat memori itu kembali, akulah
yang membela kalian di saat kalian kalah, akulah yang bertepuk
tangan dahulu ketika tak ada yang mau menyemangati kalian bertanding,
akulah yang menyeka air mata kalian di saat kalian kalah dan tertatih
malu. Tapi bayaran dari semua itu ialah api naga yang kalian semburkan
berulang-ulang. Sakit, perih, hancur, lebam, dan biru. Pengkhianatan itu
pun berakhir dengan derai air mata. Kalian pura-pura polos kembali
padaku di saat kalian merasakan sumpah yang kumantrakan pada kalian.
Nista, hina dina, dan busuk hati kalian. Hanya Tuhan yang tahu
menempatkan kembali hati ini, hati yang telah diobok-obok, disiksa,
difitnah, diinjak, dan dimaki secara membabi buta. Rasa indah saat
bersama takkan pernah aku lupakan, begitupun pengkhianatan ini...!
Menyesal pun tiada guna lagi...!
26 Oktober 2013
Ujian
mid-semester hari ini bagi anak-anak tampaknya cukup sulit. Aku bingung
melihat kondisi mereka yang kurang cakap dalam mendalami dan menguasai
pelajarannya. Tampaknya mereka belum paham apa makna ujian itu. Mereka
masih lugu, kurang ambisius, dan buru-buru. Sedikit pencerahan terucap
kearah tuju mereka. "Anak-anakku, ujian mid ini bukanlah akhir dari
segalanya, tapi ini adalah awal bagi kalian."
Siapa yang tidak pernah mendapatkan ujian, firman Tuhan "Aku berikan
kalian ujian berupa kesenangan dan kesusahan" itu kataNya. Ujian
sekolah, ujian mid-semester, ujian semester, ujian negara, ujian
nasional, ujian internasional, apalagi ujian kehidupan itulah ujian yang
sebenarnya. Musibah menandakan kita diuji, jadi konglomerat juga
pertanda kita sedang diuji. Kita lahir sudah dapat kartu ujian. Jadi,
kalau ingin lari dari yang namanya ujian itu mustahil. Bahkan penempatan
di akhirat juga diuji, apakah kita pantas di Jahannam atau di Firdaus.
Ujian bukanlah teror, ujian bukanlah momok, ujian bukanlah kejahatan,
dan ujian bukanlah kecurangan. Ujian adalah kesetiaan, kesopanan,
kepercayaan, dan kejujuran. Ujian baik menghasilkan kebaikan, ujian
nyontek dan ngopek menghasilkan dinasti korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Karena didalam ujian ada sebuah misteri. #Selamat menempuh ujian mid-semester bagi yang menjalankan...good luck!
27 Oktober 2013
Dia
pernah ada untukku. Dia pernah pergi juga dariku. Dia memang pernah
singgah di hatiku, tapi itu takkan bertahan lama. Janji yang dulu pernah
terucap memang tak semanis perjalanan ini. Ternyata dia adalah
mimpi-mimpiku dahulu. Aku pernah bermimpi untuk menjadi dokter, laboran
laboratorium Biologi, dan sastrawan. Tapi ibu berharap aku menjadi
seorang ulama agama, dan ayah menginginkan aku menjadi
yang terbaik saja. Menjadi apapun tak masalah, yang menjadi masalah
ialah tak menjadi apa-apa. Semua orang pasti memiliki cita-cita yang
luhur lahir batin. Menggagas karakter yang aku kumpulkan selama ini
menjadi kumpulan puing-puing prestasi yang pernah terpecah dan terserak
dahulu. Naik turun panggung, deraian air mata, dan hinaan bukanlah
menjadi hal yang tabu, aku terima semua itu dan aku jadikan sesuatu yang
indah. When someone throws you stones, grab it, take it, and build
something beautiful. Menjadi apa kau hari ini dilihat dari apa kau
dahulu. Tidak menjadi apa kau sekarang, kau yang memulainya dahulu.
Bermimpilah kau ingin menjadi apa nanti, karena aneh kalau bermimpi saja
kau tidak mau.
28 Oktober 2013
Aku
adalah pemuda. Kamu adalah pemudi. Kita adalah pemuda dan pemudi.
Pemuda dan pemudi inilah yang akan menjadi orang tua yang akan disindir
dan dikritik nantinya. Begitupun pemuda dan pemudi inilah nanti yang
akan terlampaui oleh zaman dan didahului oleh anak muda yang akan
datang. Menjadi muda itu tidak mudah. Dituntut berbagai hal untuk
memajukan ini itu malah membuat sang muda menjadi cepat tua.
dituntut untuk banyak "tidak" dan "jangan" dalam suatu membuat sang
muda tertekan. Tapi yang pemuda rasakan saat ini menjadi perasaan yang
akan dirasakan pe-"tua" pada saat nanti. Pemuda yang diinginkan saat ini
janganlah menjadi seperti rumput liar yang hadir di taman indah penuh
labirin dengan mawar merah putih milik sang kaisar. Tetapi pemuda itu
menjadi penentu akan maju atau mundurnya suatu bangsa dan agama
pastinya. Pemuda Kahfi menjadi contohnya yang teguh, kuat, dan tegas
dalam mengimani suatu perkara. Bangkitlah, tegarlah, berlarilah,
bertakwalah, berimanlah, dan bertanggungjawablah dengan masa muda ini.
Jangan sampai terulang kembali masa Al-Kahfi itu, sampai-sampai kita
tidur selama 300 + 9 tahun, begitu kata Al-Quran. Iya kalau kita bangkit
lagi setelah itu, kalau tidak??? let's cheer up.........! #Dirgahayu Hari Sumpah Pemuda yang ke-85.