Dari
sekian kali aku mencoba, sudah banyak yang aku dapati kesempatan itu.
Tapi semua itu seperti pergi dan menghilang seperti melihat bayangan
dalam halimun. Hidup ini memang pilihan, tapi mendengar nasihat tidak
kalah pentingnya. Bahagia bukan dilihat dari banyaknya harta yang
didapat. Bagaimana merasakan hal yang tak pernah dilihat secara zhohir.
Dunia ini fana, dunia ini hanya sebentar, ingin rehat selamanya dengan
tenang ada surga yang dipaparkan nanti. Jadi, carilah kebahagiaan itu
dengan mata hati bukan dengan mata duitan...!
Selama
sepekan terakhir Medan dan sekitarnya dilanda panas yang lumayan
ekstrem. Naluri ini hanya merasa ingin menceburkan badan kedalam air
sejuk nan dingin saja. Hari ini setelah kurang lebih 6 bulan yang lalu
aku melakukan renang di luar kota Medan dalam rangka pelatihan karyawan
yang dipimpin oleh marinir dan bahkan sekarang telah menjadi eks
karyawan (hehehe). Renang hari ini cukup dapat melenyapkan
penat, panas tubuh ini, sedikit dapat mengobati rasa rindu akan
hadirnya kucuran air ke tubuh ini selain mandi harian. Bermain,
berenang, bercanda, tertawa, dan berkelakar menjadi hal yang menyokong
hari-hariku yang ingin aku lalui secepat kilat. Aku pernah baca sebuah
hadis tentang renang, yang memang Rasul menyuruh agar kita berlatih
renang, memanah, dan berkuda. Renang sudah, tinggal memanah dan berkuda
yang belum. Kapan ya?? Agar lengkap anjuran hadis ini.
Menyusuri jalanan berdebu dan berbatu pun harus kutempuh demi generasi masa depan agama ini. Pencarian guru ini bagaikan mencari jarum dalam jerami, susah sekali. Hubungi sana, hubungi sini, tapi masih belum berbuah manis. Berat memang rasanya kalau kita sedang perlu tapi tak ada yang hinggap walaupun satu. Tapi mencari sampai kapan pun akan ada jalan keluarnya, sama seperti mencari ilmu, susah memang, tapi kalau terus menerus tanpa henti dan letih, pasti Tuhan takkan tinggal diam, Dia Maha Penolong, Ia pasti bantu kita. Mohon doa dari teman-teman dan siapa saja yang membaca status ini, agar kiranya pencarian ini berakhir dengan lancar. Di senja yang tenang dan terdengar sayup-sayup suara bacaan Alquran aku memohon pada Allah, kiranya mengabulkan doaku ini. Amin.
Alhamdulillah.
Pagi ini hanya untuk menjelajahi Medan dalam mencari kitab-kitab klasik
lumayan membuahkan hasil, dari 9 kitab hanya 6 saja yang berhasil
terhimpun. Alhamdulillah. Siang hari menjelang sore tanpa diduga angin
kencang dan langit yang gelap menemani ashar hingga maghrib kali ini
agak sedikit berbeda. Hujan turun. Alhamdulillah. Setelah sekian lama
menunggu butiran-butiran sejuk itu, akhirnya
datang juga. Tapi kali ini ada yang berbeda ba'da asharnya, mengkaji
kitab turats dengan anak-anak menjadi majelis ilmu yang sudah lama
hilang disini. Berbagi ilmu, berbagi nasihat membuat suasana dingin
terasa damai. Alhamdulillah. Jangan sampai perkumpulan ini pecah, jangan
sampai pertemuan ini musnah, jangan sampai himpunan ini terenyah, dan
jangan sampai kemenangan ini mengalah. Alhamdulillah Ya Allah.
Tanpa
pakai peci, aku langsung dipaksa untuk naik mimbar Jumat tadi siang.
Aku pernah mengajari anak-anakku bahwasanya kalau kita naik panggung
tanpa persiapan maka kita akan turun tanpa penghormatan. Itulah yang
hampir terjadi padaku tadi siang. Setelah mengucapkan salam kepada para
jamaah, langsung aku mengingat perkataan ustazku beberapa tahun lalu
kalau anak santri itu harus "multitalent", harus
bisa segalanya, kapan saja, siap saji dimana saja. Untuk ummat kalian
harus kuat mental, jangan belajar ilmu instan apalagi menjadi "ustaz
instan" yang banyak beredar sekarang di TV, itulah yang sekarang
benar-benar terjadi, padahal dia berkata tentang itu bertahun-tahun lalu
tetapi hal itu nyata terjadi saat ini. Santri harus bisa, santri harus
berani, santri harus percaya diri, santri itu juga harus berkutat dengan
masalah ummat saat ini. Lamunanku saat azan kedua sholat Jumat tadi
membawaku ke masa lalu saat aku masih dicekcoki banyak ilmu dan buku
pelajaran agama. Aku bersyukur aku menjadi santri, aku juga bangga
mendapat titel santri. Santrilah yang membuat aku masih berdiri tegak
sampai saat ini. Jangan pernah buang hidayah menjadi santri yang Allah
takdirkan bagi kalian yang merasa santri atau pernah menjadi santri.#Akubanggamenjadisantri.
Kalau
hanya untuk sehari saja, lebih baik kau tiada. Kalau hanya untuk
coba-coba lebih baik kau mundur saja. Kalau hanya untuk menyakiti, lebih
baik kau pergi saja. Keberadaanmu hanya menjadi momok yang akan
mengancam nyawa setiap kami yang bertemu denganmu. Kalau kau hanya
membuahkan tajrih bagi bibir-bibir sinis yang menganga disini, lebih
baik kau menghilang saja. Tapi kalau kau bisa membuat mulut
ghibah ini menjadi ta'dil terhadap sikap dan perilakumu, kau boleh saja
disini, bahkan untuk waktu yang tak terbatas tanpa garansi sama sekali.
Agak haram sepertinya keberadaanmu disamping kami, paling tidak makruh
littahrim lah. Bersikap natural sajalah, jangan sombong dengan apa yang
kau punya. Kau hanya keluaran kotak kapur yang loncatanmu tak setinggi
manusia-manusia yang menjadi alumni kotak kulkas. Bercerminlah,
sadarilah, pahamilah, dan tawadhu'lah semoga kami dapat berbaur
denganmu.
Menjagamu
agar tak lapuk oleh waktu adalah tugasku. Merawatmu agar tak basah oleh
hujan adalah tugasku. Mengamalkan isi-isimu adalah tugasku sebagai
sarjananya. Mengajarkan apa yang ada didalam dirimu adalah suatu
kebanggaan bagiku. Mengikuti apa yang kau perintahkan adalah jalan yang
kau berikan bagi semesta. Engkaulah salah satu tuntunan yang
ditinggalkan oleh Rasul pada kami ummat yang pernah dilihatnya
tapi selalu diingatnya bahkan sebelum beliau wafat sekalipun. Ummati,
ummati. Inilah jalan yang aku pilih, inilah hidayah yang telah Tuhan
hadiahkan, jagalah, dan bersyukurlah sudah menjadi yang terpilih.
Menjelang tamu suci yang akan datang ini kami berharap agar dapat terus
meyimpan hadiah yang Engkau berikan ya Rabbana.
Para
imam telah disiapkan, para bilal telah ditentukan, dan penceramah akan
banjir job sebentar lagi.Itulah rezeki mereka pada bulan yang akan
datang sebentar lagi. Para umat menyambut dengan macam-macam cara.
Shocked bahkan. Bahagia haru mungkin ini yang terakhir. Ibarat ruangan
yang penuh dengan emas dan berlian, serta semua keindahan ada
didalamnya, siapa saja pasti ingin meraihnya, bahkan sebelum
pintu dibuka, mereka siap menunggu sampai pintu itu terbuka. Marhaban
ya Ramadhan, marhaban berarti luas dan lapang, sehingga bagi siapa saja
tamu yang datang ke Ramadhan akan disambut dengan hati yang lapang dan
diberikan tempat seluas-luasnya untuk berhenti sejenak memperbaiki diri
yang telah rusak di bulan- bulan sebelumnya. #Selamat berpuasa orang-orang yang ditegur Tuhan.
Ini
jari sudah kaku tampaknya untuk menuliskan kalimat-kalimat. Sudah
beberapa hari, minngu bahkan, tak ada kata yang mencuat dari sudut
pikiran. Hidup ini perlu refreshing. Selama lebih dari 2 minggu,
aktivitasku disibukkan dengan kegiatan akademik dan mengurusi santri
baru. Lelah rasanya. Kemarin, kuusahakan untuk mulai menggerakkan badan
ini, akibatnya aku tepar hingga pagi ini. Aktivitas kita kadang membuat
kita sampai pada titik jenuh. Ingin tertawa, tapi lupa bagaimana
tersenyum, terlalu sibuk mencari harta dan tahta. Ayolah teman, rehat
sejenak..! Sekadar main tenis meja atau bercanda sehat ala puasa
Ramadhan untuk membangkitkan lagi urat dan saraf yang menggerutu. Ayo..!
Sudah
kelu lidah ini untuk melafalkan bahasa itu. Beberapa tahun silam, aku
mengganderungi bahasa-bahasa asing seperti Spanyol, Perancis, Jerman,
dan Jepang. Tapi sekarang semua itu seperti tak bersisa lagi, lumayan
lengketlah walau sedikit. Como esta? Comment alle vouz?dan sekedar hai
pun bisa aku katakan. Tapi sekarang seperti hilang ditelan bumi. Besar
hasrat hati ini untuk kembali lagi mengkaji,
belajar duduk bersama, dan berbicara sendiri bak Louis Figo, Nadal,
Takahashi, dan madame Dubois. Buka lagi ah buku-buku yang sudah berdebu
tapi masih bertuan itu. Belajar untuk bahagia hati ini, bukan untuk
dipuji orang, belajar memang bawaan badan, bukan paksaan orang tua
apalagi pasangan. Belajar seumur hidup, bukan seumur hidup tak mau
belajar. Jangan sampai dunia ini keras pada kita nantinya kalau kita tak
mau sekedar "Iqra". Apalagi bismi rabbika pasti lebih dalam harganya.
Sudah
tak berkelas lagi diri ini. Banyak yang pudar setelah sekian lama
dipugar dan bina. Memutar otak untuk mencari rumus terbaik untuk
memperbaikinya agar tak tergerus arus zaman. Sebenarnya agar tak kalah
dengan "keluaran" kampus-kampus, mulai dari yang bergengsi sampai yang
hanya mengejar akreditasi. Terkadang sang juara melemah karena
kemenangannya yang sesaat, sampai lupa bagaimana berusaha saat ia jatuh.
Sulit mempertahankan daripada menggapai. Melihat cermin pun enggan,
jadinya seperti manusia yang dihujani oleh masa lalu yang labil,
seharusnya bawa payung agar tak terkena imbas masa. Perbaikilah,
berkacalah, bergegaslah, dan pantaskanlah diri sendiri. #tadabbur setelah sahur
Seluruh
dosa yang telah terkumpul sepertinya akan dibumihanguskan pada bulan
ini. Insya Allah saja. Kalau kita berangan, andai saja kejahatan itu
tidak diciptakan sejak awal, mungkin kita tidak perlu yang namanya
bulan-bulan pengampun dosa, amalan-amalan peruntuh maksiat, dan doa
mustajab untuk meminimalisir dosa yang kita perbuat. Tapi itu kan hanya
mimpi semu di siang bolong pada saat perut kosong
karena puasa wajib bagi yang beriman. Jujur saja, sebenarnya kita perlu
adanya kejahatan, keburukan, dan kesalahan. Semua itu ditujukan agar
kita dapat merasakan nikmatnya sehat pada saat kita sekarat, dan kita
juga merasakan menjadi tajir pada saat kita punya harta, dan berbagi
pada mereka yang membutuhkan. Tuhan itu bukan adil, Dia Maha Adil, Dia
Maha Tahu atas apa yang Dia Ciptakan. Kita manusia hanya melihat sedikit
saja, tapi Tuhan melihat segalanya. Itulah yang terbaik bagi kita,
anugerah dari-Nya, jangan dibuang sia-sia, gunakan dengan bijak sampai
masa berlaku habis, hingga akhirnya kita menyerahkan semua yang kita
pinjam kepada Sang Maha Pemilik. #Menuju Zuhur di bulan Ramadhan.
Setan
masih banyak berkeliaran di bulan Ramadhan ini. Walaupun ada hadis yang
mengatakan bahwasanya setan-setan akan dibelengggu, tapi tidak semua
setan dirantai, hanya beberapa saja. Oleh karenanya, masih banyak dari
kita yang berbuat busuk di bulan ini, dan tidak hanya setan ghaib mata
saja yang menggoda, tapi setan yang zhohir mata juga ikutan mengganggu
sesama manusia lainnya. Dengan memperbanyak
ibadah, maka para setan wa ahlihi ajmai'n terbelenggu untuk menggoda
kita. Ada banyak pendapat memang tentang hal kebelengguan ini, hanya
saja kita berharap jangan sampai terbelenggu sama seperti setan yang
dibelenggu di bulan ini, buatlah rajutan pahala dari benang-benang
ibadah yang kita lakukan saat ini, semoga kita dapat mengenakan baju
takwa saat fitri nanti.#Sahur on my own bed.
Mereka
sudah pulang. Sudah kembali ke pangkuan ayah dan bunda. Bukan lagi
teritori kami untuk mengawasi kalian. Kalian lah yang seharusnya
pandai-pandai menjaga diri, jaga adab, jaga raga, dan jaga agama suci
ini. Di tangan kalianlah agama ini ditambatkan, di bahu kalian
perjuangan ini dilanjutkan, dan di dada kalian lah akidah ini agar
selalu tetap tertancap dalam-dalam. Sampaikan salam hangat kami
untuk keluarga kalian di " your home sweet home". Tunjukkanlah pribadi
santri dan santriwati yang seutuhnya, bukan sebutuhnya. Kami berdoa agar
liburan kali dapat me-refresh-kan lagi pikiran dan badan kalian untuk
dapat mempelajari ilmu-ilmu yang masih selautan yang masih harus kalian
tekuni. Spend your vacation time wisely guys ! #perpulangan santri masa menyambut Fitri.
Senyum
mereka takkan terlihat lagi. Kicau ribut mulut mereka takkan terdengar
lagi. Tangisan letih mereka takkan pernah diusap lagi. Canda tawa mereka
takkan tergubris lagi. Itulah perpisahan yang menyakitkan, ia datang
dengan sejuta asa dan pergi meninggalkan luka yang menyiksa. Rasanya
ingin berlama-lama dengan kalian, lalu menghentikan laju waktu agar tak
pernah berputar untuk mengambil momen-momen
emas kebersamaan diantara kita. Tapi itulah takdir pertemuan yang
bertaut dengan perpisahan. Itulah sunnatullah, itu memang bagian dari
perjalanan hidup kita semua. Sampai jumpa lagi nanti, semoga waktu cepat
bergulir sehingga mempertemukan wajah-wajah ceria kita lagi, agar kita
lebih banyak bercerita dan belajar hikmah lagi.#1 hari pasca ditinggal
anak-anak liburan.
Adhan Dit
Kalau
dulu ada rasa berat yang terseret pada saat kehilangan. Kali ini
tampaknya semakin berat beban itu, bahkan bertambah. Tahun ini harus
banyak perubahan, harus merubah pribadi, harus menghilangkan kemalasan
yang mendera. Lebih banyak membantu, bersedekah, berkomunikasi, dan
mendewasakan pikiran. Ini jalan siapa yang sedang kutempuh. Ini jalanku
atau jalan yang mereka hamparkan untukkku. Serasa
aku seperti bidak ular tangga yang dimainkan sesuai dengan angka dadu.
Nasihat sudah tak berbentuk kebaikan, perkataan sudah tak sesuai norma,
dan sugesti tak menjadi ampuh lagi. Presiden baru berharap harapan baru.
Beras jenis baru, bukan jenis catu lagi. Jangan berpegang terus pada
siapa pemimpin, ubahlah diri sendiri, siapapun yang menempatkan dirinya
diatas sana peduli setan alas, yang penting aku berusaha untuk bahagia.
Inilah takdir yang Tuhan gariskan di seluruh urat nadi tubuhku. #be positive, we can do it. New President, New Hope. Hopely.
Saat
kau baca status ini, mungkin aku sudah 100% berpaling darimu. Aku kira
kau tulus adanya untukku, ternyata palsu. Dari sekian lama waktu ada
untuk kita, kau hanya ada bahkan sepersekian detik untukku. Kau palsu,
imitasi, tak orisinil lagi hatimu. Kau hanya bagaikan boneka Garfield di
sudut tempat tidur, tak bernyawa, bersuara, apalagi ia tak dapat
memberikan sokongan di kala aku lemah. Kau tahu
aku pernah ada saat kau jatuh, saat kau lumpuh, saat kau sedih, dan
saat kau sakit. Kau lupa pernah mengharapkanku kembali beribu-ribu
kilometer jaraknya hanya untuk membantumu maju. Sekarang di kala aku
dalam sepi, telepon, ah tidak, bahkan secarik sms pun tak kunjung tiba.
Padahal hanya 150 perak paling mahal, apalagi aku tahu kau pakai kartu
yang ada sms gratisannya. Tapi itulah hati, Tuhan pun Maha Tahu bahwa
hati hambanya berbolak-balik, kadang baik, kadang busuk. Tak banyak yang
cintanya tulus pada Tuhan, apalagi manusia. A friend in need is a
friend indeed. Aku pernah berujar kata ini, kalau lupa atau tak paham
artinya bukalah kamus John M. Echols halaman 258, itupun kalau kamusmu
ada dan palsu seperti punyaku. Sudahlah, jadi berkurang nafsu makan
sahurku. Semua jadi serba palsu, aku sadar kau ternyata palsu, maya, dan
bahkan fana bagiku. Kalau kau baca ini sampai habis, berdoalah kita
agar Fitri nan diujung mata nanti dapat meluluhkan hati yang palsu itu.
Amin.#sahur with nasi bungkus without a friend beside.
Hampir
aja telat naik mimbar Jumat tadi. Macet di jalan, sampai naik becak
mesin hanya untuk mengejar waktu, akhirnya sampai juga. Alhamdulillah.
What a shocking day! Tapi upayaku untuk tepat waktu memang terbayar oleh
lari speed-ku demi menggapai mimbar. Semoga jangan terulang lagi untuk
kesekian kalinya, hingga 'keselek' ludah saat khutbah tadi. Pengalaman
baru di tempat lama.#lagi-lagi di Hari Jumat, kali ini Jumat terakhir bulan Ramadhan 1435 H. Thanks for THR lebihnya ust..!
Suami
istri itu pun berebut sehelai sarung. Iba rasanya hati ini melihat
sekelibat realita kehidupan malam di jantung ibukota, Medan. Dimana
orang-orang perlente, eksekutif sedang asyik-asyiknya bercengkerama dan
sekadar berkelakar sambil minum kopi, para tuna wisma pun juga tak mau
kalah untuk melakukan hal yang sama, mereka sama-sama sibuk berebut spot
untuk rebahan setelah seharian sibuk bekerja,
entah kerja apa pun. Seperti melihat dua dimensi malam tadi, baru kali
ini aku melihat dengan mata sendiri bahwasanya masih menjamurnya
kehidupan seperti itu saat ini. Berubah pemimpin, tapi nasib mereka
belum berputar juga, bahkan lebih buruk. Menyambut fitri ini seharusnya
zakat-zakat fitrah itu semoga sampai ke mulut-mulut lapar mereka,
setidaknya sehelai pakaian untuk menghangatkan mereka di saat malam tiba
dapat mereka kenakan dengan layak. Tinggal hitungan hari lagi,
distribusikanlah zakat agar sempurna Ramadhan ini, dan dapat sedikit
mengurangi beban mereka yang mungkin sekarang kedinginan karena berbagi
sarung untuk menghindari cuaca ekstrem malam di tengah kota Medan
metropolitan ini, berbeda dengan mereka yang menarik selimut tebal
buatan Paris karena diserang dinginnya AC di kamar berukuran 15 x 15
meter, lumayan mewah ya..! #Zakat fitrah untuk mem-fitrah-kan diri kita. Let's pay.
Sejak
negara api menyerang, aku lebih banyak diajarkan untuk menjadi api
emosi. Sedangkan saat aku di kerajaan bumi, aku juga menjadi si keras
kepala batu, egois. Lalu, ketika aku mempelajari angin, aku sering
hilang kendali, pergi tanpa kembali. Begitupun saat aku mempelajari air,
bukan kesejukan yang kalian rasakan, tapi air mata lah yang selalu
tumpah ruah. Di momen yang telah disajikan oleh Tuhan
kali ini adalah momen yang pas untuk kita saling bermaafan dan
silaturahim walau via sosial media, yang penting rasanya sampai. Saya
mohon maaf atas segala pegendalian api, bumi, angin, dan air yang kurang
terkontrol, bukan maksud hati ingin menjadi sempurna, tapi berusaha
untuk menggapai kesempurnaan itu penting, dan tanpa ridho dan maaf dari
kalian, kesempurnaan hanyalah sebatas angan semata. Happy Eid Mubarak
1435 H. — with Imam Alfatonah Harahap and 16 others.
Beberapa
hari pasca lebaran, tampaknya menjadi liburan bagi kebanyakan orang
termasuk saya. Pergi bersama keluarga menjadikan liburan lebaran ini
adalah pengejawantahan dari investasi kita selama Ramadhan. Idul Fitri,
kembalinya kita kepada kesucian, idul fitri sama dengan kembali ke asal
mula kejadian kita, idul fitri juga berarti kita kembali lagi
mempelajari agama kita yang benar setelah kurang lebih sebulan kita
mendapatkan "Tarbiyatu an-Nafsi" di Ramadhan lalu. Idul Fitri juga
kembalinya kita "Sarapan". Eh. Benar juga kan?? Berdoalah kita semua,
agar semua makna Idul Fitri terealisasi pada setiap kita.#Selamat "Idul Fitri"kembali sarapan Pasca Idul Fitri.
Halalbihalal
memang bukan suatu yang asing di telinga kita. Tak jauh dari
bermaaf-maafan, silaturahim, dan pembagian "jatah" pada umumnya.
Halalbihalal ialah kata made in Indonesia. Tidak ada kata itu walau di
Arab sana. Tapi tak seharusnya kita ragu dengan ketetapan halalbihalal
ini. Kalau dilihat dari asal kata "halal" ialah meluruskan benang kusut,
menyelesaikan masalah, mencairkan yang beku dan
banyak lagi. Ambil saja sebuah konklusi yang ramah bahwasanya di agenda
halalbihalal ini kita dapat meluruskan kembali hubungan yang terasa
kusut di bulan sebelumnya, atau sekadar memaafkan masalah yang pernah
ditujukan pada kita, dan yang lebih penting jangan dingin dan keras
seperti es dan batu, apalagi es batu, yang mana seharusnya es batu
menjadi penyejuk dan penyegar dahaga di kala hampir sebulan kita
berdahaga di tengah teriknya panas bumi dan panas hati. Sebelum
terlambat mari kita saling memaafkan dan saling "meng-halal-kan" diri
sendiri untuk pribadi yang kita anggap "haram" selama ini.#pasca halalbihalal ke rumah teman.
Jangan
berlebihan oleh keinginan padahal tak mampu tapi dipaksa. Lebay. Zaman
ini terbiasa dengan sifat dan jiwa-jiwa ke-lebay-an, terlalu banyak
melihat "OMG Hello" dan "Uscita" yang menghalilintar, membuat pikiran
pun terpuruk badai membahana dan terpampang nyata pula di garis
khatulistiwa. Zaman SMP saya dulu, banyak pesan di diary teman-teman
saya yang bertuliskan" be yourself", siapapun kamu, dimanapun kamu tetap
jadi diri sendiri. Bertranformasi jadi yang lain susah, buatlah citra
sendiri, ciptakanlah kreasi pribadi, jangan sama dengan yang lain. Kata
ayahku, kalau temanmu dapat nilai A, kamu harus A+. "Oke fix", jadinya
semua ini jangan dibuat-buat, akhirnya menjadi panggung sinetron kejar
tayang yang niatnya naik haji tapi jadinya "trio Ubur-ubur". Mulailah
mengubah nasib, mengubah pola pikir, dan mengubah pribadi kita
masing-masing. Tidak menjadi mereka kita pun tetap bisa kok...! Banyak
baca banyak tahu, banyak nonton jadi sok tahu.
Banyak tipe manusia, berbeda bukan untuk mencari kesalahan yang lain, menggugat, bahkan sampai menggigit. Banyak orang yang baik tapi tak berakal, banyak juga orang yang berakal tapi sayangnya tidak beriman. Pilihan sudah disediakan, tinggal kita yang menentukan pilihan. Kalau suka ambil, tidak suka jangan langsung dibuang, mana tahu kita perlu suatu saat nanti, karena yang kita anggap baik belum tentu juga baik bagi kita ataupun sebaliknya. Jalinlah "Link" dimanapun, kemanapun kita berada. Manusia ini makhluk sosial yang memerlukan satu sama lain, jangan dekati permusuhan, jangan sombong, jangan angkuh, kita semua butuh tangan yang lain, jangan memberati diri sendiri dengan beratnya diri dengan memikul "kebanggaan". Raih dan peganglah tangan siapapun yang menjulur, jangan hempaskan.#take and hold everybody's hand tightly
Banyak tipe manusia, berbeda bukan untuk mencari kesalahan yang lain, menggugat, bahkan sampai menggigit. Banyak orang yang baik tapi tak berakal, banyak juga orang yang berakal tapi sayangnya tidak beriman. Pilihan sudah disediakan, tinggal kita yang menentukan pilihan. Kalau suka ambil, tidak suka jangan langsung dibuang, mana tahu kita perlu suatu saat nanti, karena yang kita anggap baik belum tentu juga baik bagi kita ataupun sebaliknya. Jalinlah "Link" dimanapun, kemanapun kita berada. Manusia ini makhluk sosial yang memerlukan satu sama lain, jangan dekati permusuhan, jangan sombong, jangan angkuh, kita semua butuh tangan yang lain, jangan memberati diri sendiri dengan beratnya diri dengan memikul "kebanggaan". Raih dan peganglah tangan siapapun yang menjulur, jangan hempaskan.#take and hold everybody's hand tightly