Kurasa ini azan terlembut yang pernah kudengar. Azan dari ibuku ke telinga mungilku ini. Ah, rasanya seperti nyanyian bidadari saja. Tapi itu kapan ya? Waktu aku baru saja dilahirkan kurasa. Ibu bukanlah bui. Ia tak pernah membuat aku seperti di bui. Ibuku bukan ubi, tapi pada saat tak ada lagi sesuap nasi ia berikan aku ubi pinjaman yang ia cari dari rumah ke rumah. Ibuku pekerja keras, ia keras pada dunianya sendiri, tapi ia lembut pada anak-anaknya. Ibuku bukan penakut, tapi ia cemas kalau aku berbuat keji. Ibuku bukan pemarah, tapi ia berang kalau aku tidak sholat dan baca alquran. Ibuku bukanlah guru, tapi ia mengajarkanku tentang segala kebaikan hidup. Ibuku bukan wanita cengeng, tapi ia selalu menangis kepada Tuhan agar dimakbulkan segala doanya. Ibu, dahimu yang telah mengkerut, pipimu yang telah mulai lunak, kantung matamu yang mulai sayu, rambutmu yang mulai putih, dan langkahmu yang mulai gontai. Tapi itu semua sirnah saat kau berjuang untuk anak-anakmu bu. Kapankah aku bisa membuatmu duduk berdiam dan bersantai tanpa harus mengais rezeki untuk anak-anakmu ini lagi? Ibu, aku berdoa agar kau cepat-cepat bersantai menikmati hidup dan beribadah dengan tenang tanpa memikirkan ini itu lagi. Ibu, kau adalah hal terbijaksana, terdahsyat,tergaul,terindah, terbaik, tergokil, tersayang, tercinta, terhebat, dan terpuji yang pernah aku temui. Salam dari kami anak-anakmu yang selalu serta merta mendoakan engkau agar engkau sehat sentosa selalu. Amiin.# for my lovely mother and all great mothers in this universe may Allah bless you. Amin.
Saat kau merasa terpuruk, kau mengadu padaku. Saat kau sedang tertekan, kau bersender di bahuku. Saat kau gundah gulanah, kau tumpahkan air mata itu tepat di hadapanku. Saat kau merana, kau merunduk teduh di atas sajadahmu tepat di dalam dekapanku. Tapi pada saat kau bersenandung ria, kau seolah tak melihatku. Saat kau bergulat dengan indahnya kejayaanmu, kau bahkan tak memperdulikanku, kau tenggelam dalam lautan kebahagiaanmu, kau lupa pernah ada aku untukmu. Tapi sudahlah, itulah kodrat manusia, kau bahkan tidak dikatakan sebagai manusia kalau kau bukan pelupa. Akhirnya aku hanya bisa mencari kemana tempat aku mengadu, tempat aku ingin bersandar, dan tempat aku akan bersujud menengadah ke arah vertikal. Aku masih punya Tuhan Yang Tidak Maha Pelupa, Dia Maha Pengingat, baik maupun buruk yang diperbuat oleh manusia. Dia Maha Pengampun segala dosa, tempat mengadu, dan tempat bersandar. Biarlah kau berlari kecil sambil tersenyum bahagia kini dan nanti, aku hanya berdoa agar kau jngan sampai terjatuh untuk ke sekian kalinya. Seandainya itu terjadi aku masih rela menjadi tangan penampungmu.
Walaupun agak telat sehari, tapi Hardiknas di mahad hari ini meriah parah. Kreativitas dipadu dengan ilmu pengetahuan menjadikan anak-anak ini seperti pemikir dan pekerja yang ahli. Pendidikan itu hukumnya wajib bagi setiap insan di dunia. Pendidikan moral terlebih lagi. Pendidikanlah yang menjadikan kita dapat berjalan luwes di atas muka bumi Tuhan ini. Pendidikanlah yang membuat kita memandang luas dari kacamata kita masing-masing. Pendidikan juga yang membuat mereka mengemis, menggembel, dan mengais. Bukan pendidikan yang salah, mungkin pendidiknya atau yang dididik? Didiklah pribadi ini agar terdidik dan bantulah yang lain agar terikut didikan yang benar. Berjalanlah, membacalah, ambillah intisari lalu tebarkanlah agar bersemai bibit-bibit muda generasi masa depan.#Hardiknas @ Enha Boarding School
Hujan
yang turun di Medan pagi ini menyertaiku berangkat ke ibukota. Ya Allah
mudahkanlah langkahku agar selamat sampai tujuan hari ini.
Masih
menunggu interview yang belum kunjung tiba jua. Ada beberapa orang lagi
yang belum diwawancara. Semoga tak lama-lama lagi, kuharap cepat
selesai semua urusan ini dan berakhir dengan baik maupun lancar. Amin.
Sore
ini masih hujan sampai maghrib di Depok. Masih kalut hati ini, masih
gerah raga ini, sebenarnya masih ingin aku lihat air ini terjun lagi
dari langit biar kulimpahkan semua rasa ini. Ribut dengan politik
capres, ramai dengan black campaign, dan masih kesal dengan mereka yang
belum kunjung bekerja dengan efisien sampai detik ini. Aku anggap saja
ini liburan, aku bahkan lupa kapan aku terakhir kali
berlibur dengan tanpa menggiring tugas yang menumpuk di otak bahkan di
laptopku. Masih saja aku berharap kepada Sang Maha Pencipta agar Ia
memudahkan langkahku, meringankan jalanku, dan mengabulkan doa-doaku.
Masih menunggu air hujan ini berhenti tapi rasanya ingin terus mendengar
langit bergemuruh dan menumpahkan airnya ke bumi cadas ini.#Depok yang hujan tapi gerah. Entahlah.
Hari Minggu ini sedang dan akan terukir sejarah lama yang terulang kembali di PONDOK PESANTREN MODERN NURUL HAKIM,
adik-adikku melaksanakan khataman mereka, dengan sebutan Marhalah Wal-
Ashri alumni ke-19, yang rencananya aku bertindak sebagai protokol tapi
hal itu tidak akan pernah terjadi. Sedih rasanya menjanjikan hal yang
tidak bisa ditepati. Hanya maaf saja yang terucap untuk mereka. Saat mengetik
tulisan ini setiap detak jantung dan setiap desiran aliran darah maupun
setiap sel yang ada dalam tubuhku ini selalu membangun sebuah jembatan
doa untuk mereka semua, agar kelak mereka sukses di kemudian hari .
Amin. Maafku kepada kalian semua, semoga doaku sampai ke kalian disana,
doakan aku juga yang ada disni terperangkap sepi dan dusta. Happy
Farewell Party for you guys, good luck..!
Adhan Dit
Kembali
ke Medan setelah 1 minggu lebih menjalani tes dan interview di Serpong.
Semoga mendapatkan hasil yang terbaik. Semoga selamat sampai Kualanamu.
Amin.
Kamis
ini menceritakan sejumlah cerita yang memang layak untuk aku kenang
seumur hidup. Berkendara jauh hingga Perbaungan, Firdaus (bukan nama
surga ya..!), dan Sei Rampah, hanya untuk berkelakar dan bercerita lepas
dan tak lupa juga untuk bersilaturahim dengan keluarga baru tapi terasa
sudah lama bertemu. Satu keluarga yang sangat bahagia, dengan ayah yang
tegar, ibu yang penyayang dan lembut hatinya,
baiknya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, cintanya lebih panjang
melebihi jalan lintas sumatera. Perjalanan juga berlanjut untuk bertemu
dengan sahabat karibku saat kuliah sampai saat ini yang sudah lama tidak
kutemui, Khairul Akmal,
ia juga salah satu orang teralim yang pernah aku temui, ilmunya dalam,
dan jiwanya yang tulus (semoga selamanya dan tak berubah). Ada juga
kejadian buruk saat perjalanan tadi, mulai dari ban sebelah kanan bagian
sebuah truk meledak sampai kelewatan mencari alamat dan hampir kena
razia polisi hingga bensin kering saat tak ada yang berjualan bensin di
pinggir jalan. Lengkap sudah hari ini, ada manisnya, buruknya juga tak
mau ketinggalan. Begitulah hidup, terkadang pahit ada juga manisnya,
sama seperti iman kadang yazid dan juga yanqush. Banyak ayat yang
berkaitan tentang setelah payah ada mudah dan kita tahu itu. Terima
kasih semuanya untuk hari ini kepada Madu Maniezz, Imam Alfatonah Harahap dan keluarga besar, dan Allah pastinya yang melancarkan semua berjalan dengan lancar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar